Senin, 26 Desember 2011

INSTROPEKSI DIRI



1.    Demi masa (Ashr). 
2.     Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, 
3.     kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS Al-'Asr 103)

Detik menjadi menit, menit menjadi jam; sehari, seminggu, sebulan, setahun.. waktu berputar tidak terasa. Belum lama rasanya kita musti bangun dini hari untuk menunaikan ibadah sahur, dan insya Allah tidak lama lagi, bulan Ramadhan yang penuh berkah tersebut akan kembali kita jelang. Waktu kita masih SD, terbayang begitu lama waktu yang kita butuhkan sampai SMA. Tapi begitu lulus SMA tak terasa waktu begitu cepat terlampaui.

"Pertambahan usia setahun.. berarti pengurangan jatah hidup untuk ukuran waktu yang sama"

Satu hal yang sering menjadi pertanyaan besar, adalah: "Apakah yang telah kita lakukan pada masa-masa yang sudah terlewati tersebut???.. " Kita semua tidak pernah tau, sampai kapan jantung berhenti berdetak. Bila sudah sampai waktunya, tak seorangpun bisa menolak/menunda. Mereka yang menyia-nyiakan umurnya akan menyesal se-lama2-nya. Astaghfirullaahuladzim

"Semoga kita semua bukan termasuk org2 yang merugi" Aamiin Ya Rabbal `Alamiin.

Untuk menghindari itu, kita perlu senantiasa mengadakan instropeksi diri, menghitung-hitung amal perbuatan kita (dalam konotasi positif). Kita tidak bisa mengulangi waktu yang sudah berlalu. Yang dapat kita lakukan hanyalah mengambil hikmah or pelajaran dari kejadian masa lalu untuk pelajaran di masa depan.

Bagaimana cara kita meng-instropeksi diri atau bermuhasabah??? Mungkin akan sangat tergantung pada pribadi kita. Tapi, cara-cara berikut ini saya harap dapat dijadikan salah satu alternatif.


1. Mungkin kita semua sudah pernah melihat atau membuat sendiri apa yang disebut lembaran muhasabah.

Apakah itu muhasabah hatian ataupun mingguan. Muhasabah harian kita gunakan sebagai kontrol diri pada kegiatan2 atau ibadah2 yang rutin kita lakukan setiap harinya. Shalat lima waktu, shalat sunat, membaca Al-Quran dan tingkah laku sehari-hari dapat kita golongkan dalam versi ini. Berinfaq mungkin dapat dimasukkan ke muhasabah mingguan.

Peningkatan potensi diri, usaha memperbaiki akhlaq dapat dimasukkan pada jangka waktu yang lebih panjang. Dari hasil pengisian lembar muhasabah ini, diharapkan kita dapat menilai dimana kekurangan kita, dimana kealpaan kita sehingga dapat ditentukan langkah-langkah yang diambil selanjutnya.


2. Saling Mengingatkan

Sering kali kita mebutuhkan otang ketiga untuk mengingatkan kita. Sifat manusia yang selalu "lupa" dan "cenderung tidak mengakui kesalahan", sering menyulitkan instropeksi diri. Waktu kecil ada orangtua yang selalu mengingatkan atau "memarahi".
Namun, begitu hidup jauh dari orangtua kita butuh orang-orang disekitar kita untuk menjadi pengontrol. Disini akan terasa betapa besar pengaruh lingkungan terhadap diri kita.
Satu perumpamaan yang sudah sering kita dengar: "Kalau dekat dengan tukang las, akan ikut merasa panas"

Kadang-kadang kita sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, namun tetap dilanggar. Itulah salah satu sebab mengapa manusia perlu hidup berjamaah, agar dapat saling mengontrol dan mengoreksi.

"Sesungguhnya org2 yang tidak merugi itu adalah: ...yang nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran... 

3. Menuliskan fikiran-fikiran kita

 

Ada kalanya ketika kita mendengar sesuatu hal, membaca sesuatu hal, atau diberitakan sesuatu hal; hati kita menjadi tergerak pada saat itu. Misalnya, ketika kita membaca salah satu ayat Al-Quran yang berbunyi: "..Sampaikanlah olehmu walau satu ayat.." pada momen tertentu akan menimbulkan tekad yang kuat dalam diri kita bahwa kita akan istiqomah di jalan dakwah. Ada baiknya tekad-tekad atau fikiran-fikiran seperti itu kita catat. Satu hal yang perlu diperhatikan ialah kita musti berhati-hati dengan unsur riya dan ujub disana.

Ketika beberapa tahun kemudian, kita membaca ulang catatan2 yang pernah kita buat dan kita menemukan diri kita sudah teramat jauh melenceng dari tekad yang pernah kita canangkan. Akan timbul rasa malu dan penyesalan teramat dalam. Ternyata, bertambah usia tidak membuat diri kita bertambah baik.

Insya Allah, kita akan berusaha untuk menata ulang jalan yang seharusnya kita tempuh. (ibid)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut